Semua orang menyukai soal pilihan berganda. Peserta ujian menyukainya karena
soal jenis ini dianggap lebih mudah daripada soal isian atau essay. Tidak
perlu lagi menyerahkan lembar jawaban yang kosong melompong akibat sama sekali
tidak belajar. Pengajar menyukainya karena jauh lebih mudah memeriksa jawaban
soal pilihan berganda. Bahkan prosedur pemeriksaan dapat diotomatisasi dengan
menggunakan mesin OMR atau komputer. Pemeriksa tidak perlu lagi melakukan
prosedur pemeriksaan lembar jawaban satu per satu secara manual yang sangat
melelahkan. Pengelola institusi pendidikan menyukainya karena soal pilihan
berganda tidak membutuhkan jumlah pemeriksa yang banyak yang tentunya akan
membutuhkan dana ekstra.
Sebagian besar pelajar dan mahasiswa
berusaha mencapai nilai dengan baik dengan cara belajar tentang topik yang
diujikan. Tetapi saya perhatikan dari teman-teman saya bahwa hanya sebagian
kecil yang dapat menggunakan intuisi atau analisis untuk memaksimalkan peluang
mendapat nilai yang lebih tinggi lagi walaupun tidak 100% yakin dengan
jawabannya.
Eliminasi Jawaban yang Pasti SalahIni adalah trik yang paling jelas. Jika tidak yakin dengan sebuah
jawaban, cobalah untuk mengeliminasi jawaban-jawaban yang sudah pasti salah.
Untuk beberapa jenis soal, bahkan cara ini adalah satu-satunya cara untuk
dapat menemukan jawaban tanpa perlu menghabiskan banyak waktu. Kesalahan
banyak teman pada ujian matematika adalah selalu menjawab soal secara analitis
padahal jawaban-jawaban yang salah dapat dengan mudah dieliminasi untuk
mendapatkan solusi dari soal tersebut.
Pembuat soal yang malas
terkadang membuat soal dengan jawaban yang terlalu mudah untuk ditebak.
Pilih Jawaban yang Paling PanjangSaran klasik sebelum menghadapi ujian terutama ujian ilmu-ilmu
sosial adalah ‘pilih jawaban yang paling panjang dibandingkan jawaban
lainnya’. Menurut pengalaman trik ini hanya berlaku untuk pembuat soal yang
kurang berpengalaman yang terlalu sering membuat jawaban yang benar relatif
jauh lebih panjang daripada jawaban-jawaban lainnya. Tetapi di lain pihak,
soal-soal seperti ini juga beberapa kali muncul di ujian sekaliber UMPTN
misalnya.
Untuk meminimalkan masalah ini, beberapa pembuat soal
membuat soal jebakan. Soal tersebut biasanya tidak memiliki tingkat kesukaran
yang tinggi dan memiliki satu jawaban yang jauh lebih panjang daripada jawaban
lainnya, tetapi berbeda dengan biasanya, jawaban tersebut salah. Jika peserta
ujian menemukan soal tersebut, maka ia akan menjadi ragu pada soal-soal
berikutnya: apakah pembuat soal sedang mencoba menjebak saya lagi atau apakah
kali ini ia ‘jujur’? Ini adalah sebuah teori permainan antara pembuat soal dan
peserta ujian yang dapat digambarkan dalam matriks pembayaran dari sisi
peserta ujian kira-kira sebagai berikut dengan asumsi peserta ujian tidak
mengetahui jawabannya:
——————————
Menjebak
——— Tidak menjebak
Memilih
jawaban panjang———-
0
—————— 10
Tidak memilih jawaban
panjang—-
2,5
—————– 0
Yang menjadi masalah adalah
bagaimana mengetahui pembuat soal menjebak atau tidak? Peserta ujian perlu
menggunakan intuisinya berdasarkan situasi yang ada. Akan lebih berguna jika
ia menyelesaikan seluruh soal yang mampu ia kerjakan terlebih dahulu. Fakta
lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa soal-soal jebakan jumlahnya akan
jauh lebih sedikit daripada soal-soal bukan jebakan. Yang jelas peserta ujian
tetap diuntungkan karena bisa bereaksi sesuai dengan tindakan yang diambil
pembuat soal, sedangkan pembuat soal tidak bisa mengubah soal berdasarkan
tindakan peserta ujian.
Pembuat soal yang baik mencoba meminimalkan
‘tebakan berhadiah’ seperti ini dengan cara menyamaratakan seluruh panjang
jawaban, sehingga jawaban yang benar tidak dapat ditentukan dari panjangnya
jawaban.
Soal-soal dalam kategori ini biasanya adalah jenis
soal-soal yang paling menyebalkan. Biasanya pembuat soal mengambil sebuah
kalimat dari buku, kemudian memecahnya menjadi dua buah bagian, bagian pertama
ditempatkan pada soal, sedangkan bagian kedua ditempatkan pada salah satu
jawaban. Sedangkan jawaban sisanya dikarang sehingga seakan-akan itu adalah
jawaban yang benar. Dalam kasus ini peserta ujian dapat menganalisis apakah
pertanyaan dan jawaban terangkai menjadi sebuah kalimat yang berkesinambungan.
Carilah kesalahan-kesalahan seperti kesalahan ejaan, kesalahan gramatikal,
penggunaan ejaan lama, penggunaan istilah yang tidak lazim dan sebagainya.
Jika ada kesalahan, maka ada kemungkinan jawaban tersebut adalah jawaban yang
salah. Soal dalam Bahasa Inggris akan lebih mudah dipecahkan karena aturan
gramatikal yang lebih ketat daripada Bahasa Indonesia, sebagai contoh jika
pertanyaan dibuat dalam past tense, maka jawaban juga seharusnya dalam past
tense. Walaupun demikian, soal-soal semacam ini sangat jarang disajikan dalam
Bahasa Inggris.
Peluang Menebak JawabanYang
sering tidak disadari oleh para penulis soal dan juga peserta ujian adalah
peluang. Jika sebuah ujian terdiri dari 100 buah soal pilihan berganda dengan
lima pilihan jawaban tanpa sistem minus, dan jika peserta datang ke tempat
ujian tanpa mengerti sedikitpun materi yang diujikan, maka teori peluang
mengatakan bahwa dia akan menjawab dengan benar sekitar 20 buah soal, atau 20%
dari nilai keseluruhan. Sedangkan kondisi yang dapat menyebabkan hasil ujian
bernilai 0% adalah jika peserta mengetahui dengan baik topik yang diujikan
tetapi dengan sengaja memilih jawaban yang salah untuk seluruh soal.
Artinya,
saat datang ke ruang ujian, peserta mendapat hadiah nilai kira-kira sebesar
20%. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan soal pilihan berganda
dianggap lebih mudah daripada soal jenis lainnya. Untuk menghilangkan faktor
‘bonus’ tersebut, nilai akhir yang didapat peserta perlu direvisi dengan
menggeser titik 0% ke 20% hasil ujian. Rumusnya kira-kira adalah sebagai
berikut:
nilairevisi = (nilai – 20) * 100 / 80
Dengan
nilairevisi adalah nilai akhir yang telah direvisi, dan nilai adalah nilai
hasil ujian. Semua dalam skala 0-100. Jika nilairevisi bernilai negatif, maka
ubah menjadi 0 supaya tidak mempengaruhi hasil ujian-ujian sebelumnya.
Mitos sistem minusWalaupun demikian, sistem
revisi tersebut saya lihat tidak populer. Yang jauh lebih populer adalah
sistem minus. Pada sistem minus dengan lima pilihan jawaban, jawaban yang
benar bernilai 4 dan jawaban salah bernilai -1, dan jika peserta memilih untuk
menjawab, maka nilainya adalah 0. Sedangkan pada sistem minus dengan empat
pilihan jawaban, jawaban yang benar bernilai 3 dan yang salah bernilai -1.
Jika
seorang peserta mengikuti ujian pilihan berganda sistem minus yang terdiri
dari 100 soal dengan lima pilihan jawaban, dan jika peserta tersebut sama
sekali tidak mengerti topik yang diujikan tetapi memilih untuk menjawab
seluruh soal, maka teori peluang akan mengatakan bahwa dia akan menjawab benar
sebanyak 20 soal dan menjawab salah sebanyak 80 soal. Nilai akhir yang ia
dapatkan adalah 20*4 – 80*1 = 0. Dan jika peserta memilih untuk mengosongkan
lembar jawaban, maka nilai yang dia dapat juga 0.
Mitos yang sering
beredar adalah bahwa soal pilihan berganda sistem minus itu menyeramkan karena
peserta tidak dapat menebak-nebak jawaban untuk soal yang tidak dimengerti.
Padahal, sesuai perhitungan di atas, hasil yang didapat akan kurang lebih sama
baik peserta mengosongkan jawaban untuk pertanyaan yang tidak ia mengerti, dan
jika peserta memilih untuk menebak jawaban yang benar. Lalu pilihan mana yang
lebih baik? Jika saya sama sekali tidak mengerti, dalam kasus ini saya lebih
suka mengosongkan jawaban. Dengan menebak, saya akan mendapat nilai tambahan
di sekitar 0, ini bisa menguntungan, tapi bisa juga merugikan dan ini murni
perjudian. Selain itu, waktu yang digunakan untuk menebak akan lebih baik
dialokasikan untuk melakukan metoda tebakan lain yang akan jauh lebih
produktif.
Satu hal yang bisa membuat saya memilih untuk menebak
adalah jika prediksi nilai dari soal-soal yang lain adalah sedikit di bawah
batas lulus. Sebagai contoh jika batas lulus adalah 60%, sedangkan prediksi
nilai saya adalah 58%. Dalam kasus ini mengosongkan jawaban sudah pasti
mengharuskan saya ikut ujian lagi tahun depan. Tetapi jika menebak, maka masih
ada kemungkinan untuk lulus jika saya beruntung.
Tetapi bagaimana
jika peserta bisa mengeliminasi satu jawaban yang salah? Jika ada banyak soal
yang tidak diketahui jawabannya dengan pasti, tetapi peserta dapat
mengeliminasi satu saja jawaban yang salah, maka kondisi akan berbalik.
Sebagai contoh seorang peserta tidak mampu menjawab 40 buah pertanyaan, tetapi
dia dapat mengeliminasi sebuah jawaban yang salah dari masing-masing soal
tersebut. Maka teori peluang mengatakan bahwa dia akan dapat menjawab benar
sebanyak sekitar 10 pertanyaan dan menjawab salah sekitar 30 pertanyaan. Nilai
ekstra yang dia dapat dari menjawab soal-soal tersebut adalah sekitar 10*4 –
30 = 10. Lumayan! Nilai 10 setara dengan menjawab benar 2,5 soal.
Dan
bagaimana jika peserta dapat mengeliminasi tiga jawaban salah sampai
didapatkan dua buah jawaban yang salah satu di antaranya adalah jawaban yang
benar? Jika hal tersebut terjadi pada 40 buah soal, maka peserta akan menjawab
sekitar 20 jawaban benar dan 20 jawaban salah. Nilai tambahannya adalah
sekitar 20*4 – 20*1 = 60. Artinya nilai tersebut setara dengan menjawab benar
15 buah pertanyaan! Saya tidak habis pikir pada teman-teman yang tidak berani
menjawab padahal sudah mampu mengeliminasi tiga buah jawaban yang salah.
Saya
pribadi akan menebak jika mampu untuk mengeliminasi paling tidak satu jawaban
yang salah. Walaupun demikian resikonya terlalu tinggi jika misalnya nilai
yang saya prediksi saat ini sedikit berada di atas batas lulus. Dalam kasus
ini, menebak kemungkinan besar tidak akan dapat mengubah C menjadi B, tetapi
kemungkinan mengubah C menjadi D terbuka lebar.
Sifat KronologisSebagian pembuat soal menyusun pertanyaan-pertanyaan secara
kronologi. Soal-soal awal membahas awal-awal topik bahasan, soal-soal terakhir
membahas akhir dari topik bahasan. Menurut saya ini adalah ide yang buruk.
Sulit saya menceritakannya karena ini berhubungan dengan intuisi. Terkadang,
pada soal yang dibuat secara berurutan seperti ini saya seperti dapat membaca
sebuah pola. Biasanya pertanyaan di awal-awal berkualitas baik, tetapi semakin
mendekati akhir kualitas akan menurun secara perlahan-lahan. Frekuensi
soal-soal yang ‘berkelas’ akan semakin menurun di lembar akhir.
Cara
yang baik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengacak urutan soal.
Setelah di acak, soal-soal berkualitas rendah akan tersebar dari awal sampai
akhir. Hal ini akan menyulitkan peserta untuk mengira-ngira soal mana yang
dibuat ketika pembuat soal sudah lelah.
Ujian yang dilakukan dengan
menggunakan komputer bisa jadi ditampilkan dalam kondisi acak. Pengacakan yang
berbeda dari komputer peserta yang berbeda juga akan meminimalkan hal-hal
seperti pencontekan atau kerja sama antar peserta ujian.
Penyusunan oleh Tim atau PeroranganSoal-soal adalah manifestasi dari personaliti sang pembuat soal.
Terkadang jika kita sudah terlalu banyak menjawab soal-soal yang dibuat oleh
pembuat soal yang sama, maka kita bisa melihat adanya pola. Pola yang
bagaimana? Agak sulit untuk menjelaskan, tetapi kita bisa melihat kelemahan
dan kelebihan seorang pembuat soal dalam menyusun soal. Pola yang didapatkan
dari soal-soal yang lain bisa jadi menjadi petunjuk untuk menjawab soal-soal
lainnya.
Untuk mengatasinya, soal-soal untuk ujian yang penting
sudah biasa disusun oleh beberapa orang dalam sebuah tim, dan bukan oleh
perorangan.
Informasi dari Soal LainTidak
seperti soal jenis lain, soal pilihan berganda membutuhkan banyak kata-kata.
Ada satu soal dan lima buah jawaban untuk setiap soal yang perlu ditulis di
lembar soal. Selain itu soal pilihan berganda bersifat sangat spesifik dan
tidak luas, akibatnya diperlukan cukup banyak soal untuk dapat mencakup
seluruh topik bahasan. Jumlah soal yang banyak juga dibutuhkan untuk
meminimalkan keberuntungan. Akan lebih sulit menemukan peserta ujian yang
beruntung ketika mengerjakan 100 soal ketimbang 10 soal.
Banyaknya
jumlah teks pada lembar soal memberikan kesempatan bagi peserta ujian untuk
mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal lain atau
paling tidak untuk mengeliminasi sebuah jawaban yang salah.
Pembuat
soal yang pintar tidak akan membuat soal yang terkait dengan soal yang lain,
atau soal yang jawaban-jawabannya saling mengeliminasi. Walaupun demikian,
jika topik yang dibahas cukup sempit, maka pembuat soal akan kesulitan
melakukan hal tersebut dan hampir tidak mungkin soal-soal yang diberikan
bersifat ’saling lepas’.
Jika sifat ’saling lepas’ sulit untuk
dihindari, masalah ini masih dapat dieliminasi dengan mencegah peserta untuk
merevisi jawaban yang telah diberikan. Solusi ini mungkin hanya dapat
diterapkan dengan bantuan komputer sebagai alat masukan.
Keacakan JawabanTidak sering tetapi tidak jarang pula letak jawaban yang benar
membentuk sebuah pola. Hal ini memang sudah menjadi sifat manusia yang sulit
untuk menghasilkan sesuatu yang acak secara konsisten. Jika urutan jawaban
yang benar dari soal nomor 1 sampai 5 adalah C, B, A, E, D, lalu apakah
jawaban soal berikutnya adalah C? Ini tidak jauh berbeda dengan tebak-tebakan
pada permainan semut-gajah-orang atau yang lebih dikenal di luar Indonesia
sebagai rock-paper-scissors.